September 7, 2016

[Repost Review] Fangirl – Rainbow Rowell

  • Judul : Fangirl
  • Penulis : Rainbow Rowell
  • Penerjemah : Wisnu Wardhana
  • Penyunting : NyiBlo
  • Proofreader : Dini Novita Sari
  • Design Sampul : Bambang 'Bambi' Gunawan
  • Ilistrasi Isi : @teguhra
  • Penerbit : Spring
  • Cetakan : I, November 2014
  • Tebal : 456 hlm
  • Tersedia di bukabuku.com
  • Rating : 4.2/5
Cath dan Wren--saudari kembarnya--adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekedar fan. Simon Snow adalah hidupnya!
Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua ornag menanti-nantikan fanfiksi Cath.


Semua terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, Bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya.

Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi temar sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil.

Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia mengahadapi semua itu?


Cather 'Cath' Avery adalah seorang gadis yang introvert dan sedikit pemalu. Namun dia adalah seorang fangirl dari Seri Simon Snow garis keras. Bahkan dia sampai menciptakan sebuah  cerita fanfiksi yang menceritakan Simon dan Baz yang mendapatkan hit yang sangat tinggi di salah satu situs penulisan online. 

Meskipun kembar identik, Wren Avery begitu berbeda dengan Cath. Cath sering menggambarkan Wren sebagai seorang yang luar biasa dibanding dirinya. Cath juga sering mengumpamakan Wren sebagai pribadi yang menyerap lebih banyak sumber kehidupan yang diberikan ibunya selama mengandung mereka (diceritakan kalau Cath harus diinkubator selama 3 hari karena terlahir lebih lemah dibandingkan Wren). Walaupun demikian Cath dan Wren saling menyayangi dan melindungi sejak kecil.
"Inti dari fanfiksi," katanya, "adalah bahwa kau harus bermain di dalam alam semesta orang lain. Menulis ulang aturannya. Atau membengkokkannya..."
Bersama, Wren dan Cath menulis sebuah fanfiksi tentang Simon/Baz dengan nama pena Magicath dan Wrenegade sejak masa SMA (meskipun Wren lebih berperan sebagai beta reader bagi Cath). Dan itu merupakan masa-masa yang indah bagi Cath karena saudarinya menjadi orang yang paling mengerti dan paling penting dihidupnya setelah ayah mereka. Namun segalanya berubah sejak mereka masuk ke bangku kuliah. 

Wren menginginkan hidup yang bebas dan tanpa pengawasan di asrama, memilih untuk sekamar dengan Courtney yang sama-sama berasal dari Omaha. Cath yang merasa terkhianati tak bisa berbuat banyak. Terlebih saat ia bertemu dengan Reagan―teman sekamar Cath―yang tidak menginginkan kehadiran Cath. Yang membuat makin tak nyaman adalah kehadiran Levi―'pacar' Reagan―yang sering kali berkunjung ke kamar dan membuat Cath merasa canggung saat berada di antara mereka. Tapi di dalam dunia Cath yang sedang jungkir balik dan sedang berusaha untuk beradaptasi, hadir Nick―teman di kelas Penulisan Fiksi―yang sedikit banyak telah membuat Cath akhirnya merasa menemukan seseorang yang bisa mengerti tentang dirinya di lingkungan yang baru ini, serta membuat hati Cath bergetar setelah putus dengan dengan pacarnya di SMA.

***
"Menulis itu sepi."
Membaca novel Fangirl ini sedikit mengingatkanku sebagai seorang  fangirl beberapa tahun belakangan saat aku masih aktif sebagai silent reader menjadi penggemar pasangan IchigoxRukia dari manga Bleach karya Tite Kubo-sensei di situs fanfiction.net

Cath digambarkan sebagai seorang fujoshi (sebutan untuk cewek yang suka dengan cerita romantis antara BoyxBoy) garis keras karena pairing yang ditulisnya. Entah Rowell sendiri tahu istilah tersebut atau tidak XD tapi membaca novel ini membuatku terhanyut ke dalam cerita Cath akan keseharian dan apa saja yang dilakukannya sebagai seorang fangirl.

Tema yang diangkat sendiri cukup unik, seorang fangirl dari tokoh fiksi dalam sebuah novel berseri―bukannya fangirl dari penulisnya sendiri, penyanyi atau artis lainnya yang selama ini banyak novel yang menjadikannya sebagai tema major. Sepertinya aku belum menemukan buku yang bertema sama (atau aku yang kurang banyak membaca?), dan ini menjadikan salah satu kelebihan dari novel ini untuk wajib dibaca.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga membuatku lebih banyak memahami bagaimana sifat masing-masing karakter sesungguhnya―meskipun Rowell membuat Cath sebagai pusat cerita―bahwa dibalik setiap sikap menyebalkan―ataupun manis―dari setiap karakter mempunyai alasan tersendiri kenapa mereka melakukannya.
Tersenyum itu membingungkan, pikir Cath. Ini sebabnya aku tidak melakukannya.
Aku sedikit sebal dengan sifat Cath yang merasa seolah-olah ia adalah pihak yang paling menderita dan paling tidak beruntung di novel ini. Apalagi saat Cath suka membanding-bandingkan dirinya dengan kelebihan yang dimiliki Wren. Padahal jika ia lebih membuka mata, banyak kelebihan yang dimilikinya seperti nilai akademik yang bagus dibandingkan Wren, kesabaran dalam menghadapi sifat buruk Wren atau saat bagaimana Cath merawat ayahnya, serta kebaikan-kebaikan lain yang tak dimiliki Wren.
"... ketika kau menyadari ada seorang cowok yang menatapmu dengan pandangan berbeda―bahwa kau memenuhi lebih banyak tempat di bidang pandangnya. Saat itulah kau tahu dia tidak bisa melihat hal lain selain dirimu lagi."
Di luar kekurangan yang dimiliki Cath, aku sempat bertanya-tanya, kepada siapa hati Cath nantinya akan berlabuh. Selain Nick yang yang selalu mengajaknya belajar bersama dalam mengerjakan tugas dari kelas Penulisan Fiksi―setidaknya seminggu dua kali di Love Library, juga ada Levi yang selalu berbuat baik kepada Cath. Karena tidak mau dianggap sebagai teman yang suka makan teman―terlebih saat Cath mulai nyaman dengan Reagan sebagai teman sekamarnya―Cath harus menekan perasaannya. Namun ketika Levi meminta bantuan Cath untuk membacakan buku materi untuk ujian esok harinya, Cath tak tega menolaknya. Terlebih sesaat sebelum jatuh tertidur, Levi sempat menciumnya. Dan itu membuat Cath makin tak bisa mengontrol perasaannya.
"Lalu kenapa? Aku tidak dapat medali kalau bertahan. Itu hanya kuliah. Siapa yang peduli di mana aku melakukannya?"
Adegan favorit adalah saat hal baik satu per satu mulai mendatangi Cath―menjelang akhir novel―menggantikan hal-hal buruk yang telah dihadapi dan diselesaikannya.

Untuk karakter favorit, aku justru menyukai Reagan. Ia sendiri sebenarnya kakak angkatan Cath. Meskipun sering berkata kasar, sinis dan bertingkah menyebalkan kepada orang lain, sebenarnya ia sendiri orang yang baik. Seperti saat ia prihatin melihat Cath yang berminggu-minggu hanya bertahan dengan memakan batangan protein―yang dibawanya dari rumah karena tak mengetahui letak ruang makan dan merasa asing jika makan sendirian―akhirnya menyeret Cath untuk makan bersama.

Fangirl adalah buku pertama dari Penerbit Spring yang aku baca. Penerjemah sendiri menerjemahkannya dengan bahasa yang mengalir dan begitu apik. Hingga tanpa sadar membuatku telah menyelesaikan membaca buku ini. Aku menemukan satu typo di dalamnya, tapi lupa mencatat halaman berapa karena aku merasa mungkin itu typo saat kita miss kata dalam sebuah percakapan di telepon. Namun di luar itu terjemahannya begitu sempurna. Dan untuk cover sendiri sih, aku lebih suka cover yang dibuat Penerbit Spring dibanding cover aslinya.

Buat yang merasa punya nasib sebagai sesama fangirl ataupun seorang fujoshi wajib baca buku ini. Dan yang suka atau sedang mencari bacaan bergenre YA ataupun kisah romance yang ringan, Fangirl ini recomended banget deh!
"Aku penasaran... kalau ada benda seperti mesin waktu, apa ada orang yang menggunakannya untuk pergi ke masa depan?"

"Kita saling menyukai. Apalagi yang kurang? Selain itu dibandingkan dengan seluruh dunia, kita punya banyak persamaan. Kalau alien datang ke bumi, mereka bahkan mungkin tidak akan bisa membedakan kita."

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, mohon gunakan kata sopan dan bijak, serta gunakan Nama/Url. Bukan menggunakan user Anonim. ^^