July 28, 2017

[Review] Holy Mother – Akiyoshi Rikako

  • Judul : Holy Mother
  • Penulis : Akiyoshi Rikako
  • Penerjemah : Andry Setiawan
  • Penyunting : Arumdyah Tyasayu
  • Proofreader : Titish A.K.
  • Desain Sampul : Pola
  • Penerbit : Haru
  • Tebal : 284 hlm.
  • Terbit : Agustus 2016
  • Genre : Thriller, Mistery
  • Rating : 🌟🌟🌟🌟🌟
Terjadi pembunuhan mengerikan terhadap seorang anak laki-laki di kota tempat Honami tinggal. Korban bahkan diperkosa setelah dibunuh.

Berita itu membuat Honami mengkhawatirkan keselamatan putri satu-satunya yang dia miliki. Pihak kepolisian bahkan tidak bisa dia percayai.

Apa yang akan dia lakukan untuk melindungi putri tunggalnya itu?

Sepertinya aku telah memilih dengan tepat saat aku memutuskan untuk membaca Holy Mother sebagai novel terakhir Akiyoshi Rikako yang aku baca. Seperti menyisihkan lauk terenak untuk dimakan paling akhir, Holy Mother merupakan karya terbaik penulis yang aku baca hingga meninggalkan kesan yang mendalam saat menyelesaikannya.

"Kalau begitu, Anda mungkin menganggap saya sebagai ibu yang sensitif. Tapi, seorang anak benar-benar berharga. Sebelum dia lahir, kami benar-benar satu tubuh. Meskipun sesudah lahir kami berpisah menjadi dua tubuh, saya merasa bahwa kami terhubung lewat pusar kami. Meskipun kami berjauhan, rasanya anak itu ada di sisi saya. Antena saya selalu mengarah kepada anak saya. Ibu itu sosok yang hebat. Karena itu, menurut saya perasaan seorang ibu tidak bisa dianggap remeh." [hlm. 139]
Novel ketiga yang diterjemahkan oleh Penerbit Haru ini sedikit berbeda dengan dua karya sebelumnya yang mengangkat kisah remaja. Holy Mother sendiri berkisah tentang Honami, seorang ibu yang sangat mencintai anaknya. Butuh perjuangan yang sangat berat dan lama untuk bisa memiliki putrinya, dan ketika terjadi kasus penculikan anak dan berujung dengan pembunuhan yang mengerikan pada anak tersebut, Honami bertekad melakukan segala cara untuk melindungi putrinya.

Dalam narasinya, Holy Mother sendiri menggunakan tiga sudut pandang berbeda—Honami, Tanaka Makoto (seorang pelajar kelas 2 SMA yang merupakan ahli kedo dan merupakan guru bagi anak-anak SD dan kelompok bermain), serta Sakaguchi dan Tanizaki (dua detektif yang sedang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan anak di kota Aidee)—yang saling bergantian di tiap babnya.

Aku cukup terkejut saat identitas pelaku pembunuhan justru langsung muncul di awal-awal bab—alih-alih disembunyikan agar pembaca merasa penasaran dan mencoba menebak-nebak siapa pelakunya. Tetapi rasa penasaranku tetap tumbuh seiring berjalannya cerita—tentang bagaimana antar karakter di cerita saling terkait pada nantinya.
cover versi Jepang

Rasanya selalu berdebar-debar saat aku membaca halaman demi halaman di dalam novel. Apalagi saat pelaku melakukan aksi penculikan dan pembunuhannya yang kedua. Sebenarnya aku sedikit tidak tahan saat membayangkan bagaimana pelaku memutilasi korban kedua yang dijelaskan dengan cukup detail.

Endingnya sendiri benar-benar GILA DAN AMAZING!!! Walaupun aku sudah berusaha membaca tiap kata dengan cermat, tapi ternyata aku masih tetap tertipu dengan plotnya. Rasanya tidak cukup jika membaca Holy Mother ini hanya sekali. 

Dan untuk pelaku, jujur saja aku sendiri tidak bisa memutuskan pelaku pembunuhan tersebut sebagai orang yang bersalah, karena ia mempunyai alasan tersendiri kenapa ia sampai melakukan aksi kejinya itu. Tapi bagaimana pun, menghilangkan sebuah nyawa orang lain bukanlah tindakan yang terpuji. Sekali pun kita begitu membenci orang tersebut.