March 20, 2018

[Review] Pasung Jiwa – Okky Madasari

Judul : Pasung Jiwa
Penulis : Okky Madasari
Penyunting : Anastasia Mustika
Desain Sampul : Rizky Wicakcono
Penerbit : GPU
Tebal : 328 hlm.
Terbit : Mei, 2013
Rating : 🌟🌟🌟
Bisa dibeli di bukabuku.com
Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.
Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.
Novel Pasung Jiwa berkisah tentang Sasana—sebuah kefeminiman—yang terjebak dalam tubuh jantannya. Sejak lahir Sasana telah membenci dirinya sendiri—membenci apa yang ia miliki dan apa yang selalu diberikan kepadanya. Karena semuanya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan dan mengekang hidupnya.
Hingga kemudian ketika Sasana mulai masuk bangku kuliah dan jauh dari kedua orang tuanya—yang selama ini membuatnya harus menahan apa yang selalu diingkannya, ia bertemu dengan Jaka Wani—seorang seniman jalanan (alias pengamen) yang mendorongnya untuk membebaskan apa yang selama ini menjadi keinginan Sasana.
Kehidupan Sasana setelah bertemu Jaka Wani pun tak berjalan mulus. Terlebih setelah mereka harus membantu Cak Man mencari anaknya yang hilang. Keduanya harus terpisah. Saling terkekang. Dan justru saling memusuhi ketika pada akhirnya bertemu kembali.

Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengungkungku menjadi tembok-tembok tinggi yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku. (Sasana, h. 293)

Pernahkan kita berpikir jika kehendak bebas itu benar-benar ada? Bagiku sendiri kebebasan itu sesungguhnya tidak benar-benar ada. Karena setiap manusia sejatinya akan selalu terikat oleh hukum dan norma yang berlaku dimanapun ia berada.
Jujur saja, sebenarnya aku bingung ingin memberi nilai buku ini. Di satu sisi, aku menyukainya hingga aku tak bisa berhenti membacanya. Di sisi lain aku juga tidak menyukainya karena jika aku mendukung "kebebasan" yang ada di dalamnya itu tidak sesuai dengan apa yang aku yakini. Yah.. karena aku selalu mengikatkan diriku pada hukum dan norma.
Plot novel ini sebenarnya bagus, karena selalu membuatku penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya pada karakter utama. Tema utamanya tentang seorang transeksual pun menarik, terlebih karena setting dan isu-isu yang diangkat diambil pada masa orde baru dan peralihan ke reformasi menjadi bumbu yang membuat novel ini lebih menarik lagi. Hanya saja anti-klimaks novel ini menurutku kurang nendang dan membuatku sedikit kecewa pada akhir cerita.
Meski demikian aku tetap menyukai novel Pasung Jiwa ini, karena membuatku sedikit memahami gejolak batin yang mungkin terjadi pada para transeksual.

baca via iJakarta