April 5, 2018

[Review] The Hunger Games – Suzanne Collins

Judul : The Hunger Games (The Hunger Games #1)
Penulis : Suzanne Collins
Penerjemah : Hetih Rusli
Penerbit : GPU
Tebal : 408 hlm.
Terbit : Oktober, 2009
Rating : 🌟🌟🌟🌟

Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik. Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.
Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah : membunuh atau dibunuh.
Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.

Jauh di masa depan, Amerika Utara telah musnah dan di  bekasnya berdiri sebuah negara bernama Panem yang dikelilingi 12 distrik dengan Capitol sebagai pusat kotanya. Tiap tahun diadakan sebuah acara pertarungan yang ditayangkan langsung di televisi guna memperingati pemberontakan yang dulu pernah terjadi, Capitol mewajibkan tiap distrik untuk mengirimkan dua peserta untuk mengikuti acara yang disebut The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang hidup di tiap tahunnya, artinya kau harus membunuh atau dibunuh untuk jadi pemenangnya.
Katniss Everdeen yang tinggal di daerah termiskin di distrik 12, terpaksa mengajukan dirinya sebagai peserta The Hunger Games demi menggantikan Prim—adik yang paling dia sayangi ketika namanya terpilih untuk mewakili distrik mereka. Berbekal kemampuan berburu dan memanah yang dimilikinya, Katniss bertekad untuk memenangkan permainan tersebut dan pulang dengan selamat.
Dalam persiapan acara The Hunger Games, Katniss berkenalan dengan Peeta Mellark—teman satu distrik yang dulu pernah membantu Katniss di masa terburuknya. Di saat-saat terakhir sebelum permainan dimulai, Peeta justru menyatakan perasaannya pada Katniss—yang tentu saja membuat perasaannya memburuk karena peraturan The Hunger Games yang hanya memenangkan satu peserta. Katniss tak tahu, apakah Peeta tulus dengan perasaannya atau semua itu hanya rencana Peeta untuk melemahkan pertahanannya dan akhirnya akan membuat Katniss terbunuh.
"Begini saja. Kaumenangkan Hunger Games ini, lalu pulang. Dia pasti tidak bisa menolakmu, kan?" kata Caesar memberi dukungan.
"Kurasa cara itu takkan berhasil. Menang… sama sekali tak membantuku," kata Peeta.
"Kenapa tidak?" tanya Caesar heran.
Wajah Peeta bersemu merah dan dengan gagap dia berkata, "Karena… karena… dia datang kemari bersamaku."
Mungkin sepertinya aku cukup telat ketika memutuskan untuk membaca seri The Hunger Games ini. Jujur saja ketika buku dan filmnya dulu ramai dibicarakan, aku justru tidak terlalu tertarik. Filmnya pun dulu kutonton sambil lalu karena aku kurang suka dengan premis ceritanya. Minatku baru benar-benar tergugah ketika aku menonton film keduanya dan begitu penasaran dengan akhir yang menggantung dan akhirnya membuatku membaca buku ketiganya karena penasaran dan tidak sabar untuk tahu dengan lanjutan ceritanya.
Setelah membacanya, cerita antara film dan bukunya ternyata tak banyak perbedaan. Mungkin ada detail-detail yang ditambah atau dikurangi dari buku ketika difilmkan, tetapi tak terlalu berarti (kalau nggak salah sih... karena aku pun sudah lumayan lupa dengan film yang kutonton bertahun-tahun yang lalu)
Peggunaan sudut pandang orang pertama di cerita justru membuatku kurang bersimpati dan terkadang justru sebal dengan sifat Katniss yang ternyata terlihat begitu egois dan selalu insecure di buku. Yah, mungkin bisa dimaklumi karena di distriknya pun dia tidak befitu percaya dengan orang lain. Tapi kadang gregetan juga kalau dia sering sangsi dengan apa yang dilakukan atau apa yang dikatakan Peeta. Padahal dia jelas selalu jujur dengan semua tindakannya (mungkin karena efek sudah nonton film duluan sih. Seandainya aku jadi Katniss, mungkin aku juga tidak akan mudah percaya dengan Peeta peraturan Hunger Games)
Overall, aku sangat suka dengan The Hunger Games ini. Salah satu novel distopia terbaik yang aku baca. Sekalipun telah menonton filmnya lebih dulu, ketegangan dan keseruan cerita tidaklah hilang.


baca via iJakarta


 http://amenobook.blogspot.co.id/2018/01/proyek-baca-buku-perpustakaan-2018.html